Menjelang Ramadhan FPI baiknya dibubarkan tanpa harus tunggu kepulangan rizieq.daripada ribut dengan warung yang buka disiang hari - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Tuesday, May 23, 2017

Menjelang Ramadhan FPI baiknya dibubarkan tanpa harus tunggu kepulangan rizieq.daripada ribut dengan warung yang buka disiang hari


 www.pokeremas.com



Ada analis yang mengatakan kalau pembubaran HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) justru bukan waktunya. Saat ini, HTI tidak semekar dulu. Akhir-akhir ini, HTI justru adem dan disibukkan dengan agenda diskusi konsep kenegaraan, khilafah berhadapan dengan sistem demokrasi.

Tapi, buat saya, langkah pembubaran HTI ini termasuk lamban. Mungkin di kalangan mahasiswa proses dialektika terlihat dinamis. Namun, perlu diingat bahwa mahasiswa pun tak semuanya mampu dengan jernih menerjemahkan konsep-konsep ideologi.

Tentu, jika sebatas diskusi, debat dan adu argumentasi, tak ada yang perlu dikuatirkan. Mendalami konsep-konsep bernegara sederajat dengan keinginan mahasiswa mempelajari filsafat, mendalami macam-macam ideologi. Jika dasarnya adalah khasanah keilmuan, dialektika konsep bernegara dan ideologi tak perlu ditakuti.

Cuci Otak ala HTI

Sementara, apa yang dilakukan HTI adalah mempengaruhi mahasiswa untuk mengganti demokrasi dengan sistem pemerintahan Islam khilafah dan antikeberagaman.

Apa yang salah dari HTI adalah ketika ia dengan tegas menyebarkan propaganda anti demokrasi, anti pancasila dan tak segan menyerang pemerintahan yang sah. Akhirnya, HTI pun harus menerima sindiran pedas, membenci demokrasi tapi hidup di negara yang menganut demokrasi.

Mereka menentang Pancasila dan UUD 1945, namun mereka diberi kebebasan untuk berorganisasi justru karena demokrasi tak membolehkan seorang atau kelompok organisasi diperlakukan tidak adil.

Pemerintah sudah melakukan rapat berulang-ulang terkait keputusannya pembubaran ormas keagamaan HTI yang dinilai bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, langkah pembubaran itu tetap terkesan terburu-buru. Seyogianya langkah itu melalui mekanisme aturan hukum dulu, baru kemudian HTI dibubarkan. Barangkali itulah yang harus dicermati dan dikoreksi oleh pemrintah Jokowi-JK agar tidak ada komplikasi dan tidak menjadi kontroversi.

Kenyataannya, justru banyak mahasiswa yang tak lagi mengendepankan rasionalitas dalam bertindak. Mereka terlihat kritis untuk urusan kinerja pemerintahan, namun jika disodorkan persoalan agama, mereka terkadang lupa menggunakan akalnya.

Kasus ‘garuda kafir’ yang disebarkan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro hanya salah satu bukti dari lemahnya pemahaman keagamaan dan krisisnya sikap nasionalisme.

Jadi, pembubaran HTI yang telat, telah menyasar ke lipatan-lipatan kesadaran generasi muda. Bahasa ‘cuci otak’ mungkin tidak berlebihan untuk menyebut mereka yang dengan lapang dada menerima konsep negara khilafah, lalu ramai-ramai menyerang demokrasi sebagai produk thogut.

HTI memang tidak kelihatan sangar. Mereka aktif di forum-forum seminar, media sosial dan punya situs sendiri yang update. Saat melakukan demonstrasi pun mereka hanya bersenjatakan pengeras suara dan spanduk. Mereka tak membawa pentungan. Tapi, HTI menyerang otak, dan ini lebih berbahaya dibanding fentungan.

Saatnya Menggantung Fentungan

Agar lebih gaul, kita gunakan kata fentung, bukan pentung. FPI yang dikenal sebagai tukang sweeping, memang punya riwayat yang kurang bagus bagi tumbuhnya kerukunan. Apa yang mereka lakukan adalah tindakan anarkis nan brutal. Mereka mempraktekkan hukum jalanan di tengah upaya bangsa ini memperbaiki citra hukum.

Suatu waktu di 2014, Basuki Tjahaja Purnama yang kala itu menjabat pelaksana tugas gubernur DKI, sempat menyurati Menteri Dalam Negeri serta Menteri Hukum dan HAM untuk merekomendasikan pembubaran FPI. Pak Basuki tentu menyadari kiprah organisasi ini dapat mengganggu dinamika kota, yang seharusnya bisa fokus untuk menata pembangunan, dan mengangkat derajat kesejahteraan masyarakatnya. Tapi, yang terjadi justru FPI-lah yang getol dan tak henti-hentinya menyerang Ahok, hingga berujung bui.

Memang selaku organisasi, FPI pun berhak diberi ruang di negeri ini. Tapi, karena di negara ini ada aturannya, tentu mereka harus menyucikan diri terlebih dahulu dari perilaku anarki. FPI patut diperlakukan layaknya kelompok lainnya sepanjang mereka tidak mengganggu orang atau kelompok lainnya.

Kenyatannya FPI melakukan sweeping, menyerang, melukai, bahkan mengangkangi hukum negara, ini yang harusnya tak lagi diberi tempat. Perilaku anarkis inilah yang seharusnya membawa FPI pantas dibubarkan. Dan yang bisa membekukan FPI hanya negara, bukan organisasi atau kelompok lain, dengan dalih apapun.

Karenanya, saya kurang sependapat dengan argumentasi yang menginginkan kelompok dibenturkan dengan kelompok. Pola ini adalah primitif, dan memiliki implikasi sosial yang distrust yang bisa merusak tatanan yang sudah terbangun. Selain itu, pola benturan kelompok juga sangat rentan disusupi oleh pihak yang memang mengharapkan terjadinya chaos.

Beberapa hari ke depan, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Bagi umat Islam bulan ini adalah ajang penyucian diri dengan puasa sebulan penuh. Saya pikir sekaranglah saat yang tepat membekukan FPI. Tak pelu menunggu Rizieq pulang, daripada ribut lagi dengan warung-warung yang buka di siang hari.


SUMBER https://seword.com

Pages