Akhirnya Jonru Dipolisikan! Traktiii..!!!!! - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Friday, September 1, 2017

Akhirnya Jonru Dipolisikan! Traktiii..!!!!!



 www.pokeremas.com


Selamat memeriahkan dan memerdekakan hari raya Idul adha (Lebaran Haji) 1438H, semoga perayaan idul adha kali ini yang bertepatan dengan berakhirnya bulan agustus yakni bulan kemerdekaan republik Indonesia membuat kita menjadi semakin baik. Semoga kita semua warga muslim mampu mengambil hikmah dari semua peristiwa sejarah kenabian Ibrahim dan Ismail dan mampu mengambil hikmah dan pelajaran bagi bangsa kita Indonesia serta bagi diri kita sendiri. Semoga kita semua warga negara Indonesia yang berbeda suku bangsa, agama, ras, golongan mampu merasakan keberkahan idul adha dengan gembira, baik dan lancar. Semoga berkah daging idul adha bisa dirasakan semua warga negara repulik Indonesia. Merdekaaaaa

Seperti biasanya tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya akan mencoba memberikan sedikit sebuah cerita, kita analisa dengan konteks kehidupan modern, kita gunakan analogi-deduksi serta induksi kemudian kita ambil hikmahnya untuk kehidupan kita masa sekarang dan masa mendatang agar jauh lebih baik.
Cerita yang sudah terpatri permanen didalam benak semua umat muslim maupun non muslim yang mengakui eksistensi bapak para Rasul Ibrahim AS. Cerita yang dimaksudkan disini adalah cerita tentang Ibrahim dan Ismail. Ratusan, ribuan bahkan tidak terhingga kisah-kisah yang bisa kita ambil dari para rasul bagi kehidupan kita sekarang terutama Ibrahim dan Ismail.

Dan cerita paling terkenal adalah tentang kisah ketegaran Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah serta kesabaran Ismail dalam menguatkan hati ayahnya dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Sedikit petikan ceritanya yang selalu kita dengarkan setiap Idul Adha :

Cerita Ibrahim dan Ismail

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il, artinya “Allah telah mendengar”. Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: “Allah mendengar doaku”.

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).

Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.

“Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102)

Konteks Zaman Sekarang

Mengambil pelajaran hidup bisa dari segala sisi, tergantung kita belajar dari segi mananya. Bagaimana mengambil sebuah cerita, kita pikirkan dengan cara rasional, ilmiah, logis dan bisa dipertanggung jawabkan.
Saya tidak mau memperpanjang pembahasan, saya cukup langsung membahas ke intinya. Bagaimana cara kita mengambil pelajaran dari Ibrahim AS dan Ismail AS.

Kita semua wajib belajar tentang ketegaran Ibrahim, Ibrahim benar-benar tegar dalam menjalankan kehidupannya, benar-benar sabar dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang nabi. Nabi Ibrahim adalah contoh nyata bagi semua umat, contoh nyata tentang keberanian menghadapi sebuah janji dan masalah. Begitu pula dengan Ismail, bagaimana keikhlasannya, kecerdasaan dan ketenangan akalnya dalam menerima ayat Allah dalam situasi segenting itu. Tolong dicatat, saya tidak bicara tentang seorang ayah yang menyembelih anaknya, itu hak para ulama menafsirkan situasi dan kondisinya, saya sama sekali tidak berhak. Saya lebih bicara kepada respon seorang hamba dalam menghadapi masalah. Itu yang kita contoh

Bagaimana Ibrahim dan Ismail merespon apa yang sudah menjadi kewajibannya, mereka benar-benar menghadapi permasalahannya, mereka tidak pengecut dan lari dari tanggung jawabnya, mereka sabar dan ikhlas tegar menghadapi masalah yang ada. Itu yang harus diambil oleh umat islam maupun non muslim jaman sekarang.

Saya heran dengan si Rizieq dan kawan-kawannya yang kalau sedikit-sedikit ada permasalahan di negara ini melarikan diri dengan cara Haji/umroh atau pergi sembunyi keluar negeri. Tidak ada yang salah dengan Haji karena itu jelas perintah Allah. Tapi jika Haji karena motivnya motiv diluar keimanan, mau jadi apa gelar Haji yang disandang?

Apakah ketika ber Haji, mereka tidak mengilhami ketegaran Ibrahim dan Ismail dalam menghadapi sebuah permasalahan? Justru sikap pengecut dan melarikan diri itu akan menjadi contoh yang buruk bagi generasi berikutnya, sedikit-sedikit melarikan diri dan tidak menghadapi masalah dengan tegar. Sama sekali bukan sesuatu yang dicontohkan Ibrahim AS dan Ismail AS.
Ibrahim As dan Ismail AS bukanlah pengecut yang suka lari dari permasalahan, mereka orang-orang yang teruji dan sabar dalam menghadapi masalah yang menempa mereka. Bukan terus-menerus melarikan diri seolah si Rizieq dan beberapa teman-temannya.
Terakhir, ayo kita tunggu kepastian orang yang mengatakan tidak takut diciduk polisi. Kabur atau dihadapi? Anda pasti paham siapa orang yang saya maksud hehehehe

sumber www.beritaemas.com

Pages