Gerakan #2019GantiPresiden, Akankah Bernasib Sama dengan Inggris di Piala Dunia? - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Saturday, July 14, 2018

Gerakan #2019GantiPresiden, Akankah Bernasib Sama dengan Inggris di Piala Dunia?

 emaspkr.com
BERITA EMAS

Gerakan #2019GantiPresiden menjadi gerakan yang menarik. Di mana gerakan tersebut tidak mengusung nama unuk menjadi Presiden. Gerakan tersebut diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai tersebut kita ketahui sebagai partai yang memiliki 9 orang cawapres yang diajukan kepada Prabowo. Jumlah yang cukup banyak memang.

Untuk, selain sosok PKS harus memiliki gerakan lain untuk bisa dipandang oleh Prabowo dan Partai Gerindra. Bahkan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menemukan isu tagar 2019 ganti presiden menjadi catatan bagi petahana Joko Widodo. Sebab, elektabilitas Jokowi bertengger di angka 49,3 persen. Sebagai petahana, jika belum sampai di atas 50 persen posisinya tidak aman.Poker88

LSI merilis kampanye tagar 2019 ganti presiden semakin dikenal masyarakat. Pada survei Mei 2018 lalu, atau sebulan setelah digaungkan, 50,8 persen masyarakat mengenalnya. Kemudian saat ini, masyarakat yang mengetahui sampai angka 60,5 persen. Gerakan tagar ini tak hanya makin populer. Survei menunjukkan masyarakat makin banyak yang menyukai dan menerima.Poker88

Keadaan ini mengingatkan kita pada permainkan Timnas Inggris melawan Kroasia di Piala Dunia 2018. Inggris sempat memimpin lewat gol tendangan bebas Kieran Trippier pada menit ke-5. Inggris dapat mengungguli Kroasia pada babak pertama. Namun, Ivan Perisic kemudian menyamakan kedudukan di menit 68. Mario Mandzukic memastikan keunggulan tim berjuluk Vatreni itu di menit 109.Poker88

Pelatih timnas Inggris Gareth Southgate menjelaskan bahwa timnya punya masalah di babak kedua. Terutama, dalam hal ketenangan saat memegang bola. Inggris tercatat memiliki penguasaan bola tak kalah jauh dari Kroasia. Yakni, 44,7 persen berbanding 55,3 persen. Pemain Inggris lebih banyak bergerak di area sendiri. Pergerakan di area lawan banyak dilakukan di daerah operasi Trippier di sayap kanan.

Inggris sebenarnya cukup baik mengendalikan permainan dan punya beberapa peluang bagus di babak pertama. Di momen itu, Harry Kane dan kawan-kawan seharusnya mengejar gol kedua. Namun, nyatanya tidak. Inggris malah menjadi tertinggal dengan Kroasia. Tim yang dianggap sebagai tim yang besar, kalah karena ketiadaan pemain tengah.Poker88

Hal yang sama juga nampaknya akan terjadi di tubuh PKS. Mardani Ali Sera menjadi pemain paling depan untuk gerakan 2019. Mardani bukan orang baru dalam gerakan semacam ini. Pada Pilkada DKI Jakarta 2017, ia dipercaya sebagai Ketua Tim Sukses calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Kemenangan Anies–Sandiaga tahun lalu tak lepas dari peran Mardani.

Selain Mardani, ada pula nama Eggi Sudjana yang menjadi penggagas gerakan ini. Ia bergerak menyebarkan ide ke jaringan agar ada kampanye bersama 2019 Ganti Presiden di pelbagai daerah. Lalu, disusul oleh Neno Warisman dalam gerakan tersebut. Namun, kita perlu berpikir kembali bahwa PKS bukan partai yang solid.

Di tengah sejumlah serangan yang dilancarkan. Posisi tengah dari partai tersebut kosong. Ada konflik internal PKS yang membuat beberapa orang pergi. Orang yang hari didepak oleh PKS adalah Fahri Hamzah. Ini membuat kondisi PKS lemah. Bagaimana dengan kader muda PKS? Beberapa waktu lalu, terdapat deklarasi kaum muda PKS.

Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, Mahfudz Shiddiq, Zulkieflimansyah, Fahri Hamzah (meski sudah dipecat), Almuzammil Yusuf, dan sebagainya masih duduk di parlemen. Nama-nama pemain utama yang tak bergeser dalam 2-3 periode di parlemen sepertinya akan muncul lagi pada pemilu 2019. Seperti biasa, dalam tradisi PKS, nama-nama mereka yang sudah duduk di parlemen akan mendapatkan nomor urut satu dalam daftar caleg PKS, baik di level DPR hingga DPRD.Poker88

Kebiasaan ini bermula dari hierarki yang berlaku dalam jenjang kaderisasi PKS, yang durasinya menentukan tingkat senioritas seorang kader. Jenjang kaderisasi—dimulai dari jenjang pemula, madya, dewasa, kemudian ahli—akhirnya melahirkan praktik oligarkis dalam tubuh PKS. Kader-kader muda ini, tidak akan mampu menjadi pemain utama di PKS.Poker88

Sekalipun ada tubuh untuk kader muda PKS, strategi ini tampak mentah dan tak lebih sekadar gimmick pendulang suara, alih-alih menopang narasi politik partai. Mereka akan menjadi kader cadangan, walaupun sejumlah posisi di PKS terbilang kosong. Wajah seperti ini, akan menyulitkan PKS untuk gerakan tersebut.

Pages