Prabowo Puji Kepemimpinan SBY, Contohnya Kondisi BUMN, Padahal Ini Data & Fakta SBY Penjual Aset BUMN - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Thursday, July 26, 2018

Prabowo Puji Kepemimpinan SBY, Contohnya Kondisi BUMN, Padahal Ini Data & Fakta SBY Penjual Aset BUMN

 emaspkr.com

BERITA EMAS
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memuji kinerja dua periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satu yang dipuji adalah kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketika Ketua Umum Demokrat tersebut memimpin negara.

Pujian itu Prabowo lontarkan saat memberikan keterangan pers seusai pertemuan dengan SBY dan Agus Harimurti Yudhoyono di kediaman pribadi SBY, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/7/2018) malam. Poker88

Pertemuan tersebut membahas peluang koalisi antara Gerindra dan Demokrat dalam Pilpres 2019.
"Pak SBY memiliki pengalaman yang sangat besar. Sepuluh tahun beliau memimpin dengan baik republik kita. Yang jelas waktu beliau memimpin, BUMN-BUMN dalam keadaan baik," ujar Prabowo. Poker88

Prabowo menilai, kondisi BUMN saat ini merisaukan. Padahal, kata mantan Danjen Kopassus itu, BUMN merupakan pertahanan terakhir ekonomi negara Indonesia.
12 BUMN Rugi di 2017, Jumlahnya Rp 5,2 TriliunPoker88

Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro mengatakan kerugian 12 BUMN tahun lalu nilainya mencapai Rp 5,2 triliun.

"2016 tercatat 26 BUMN rugi. Di 2017 turun menjadi 12 BUMN, nilai kerugian hanya Rp 5,2 triliun," katanya usai menghadiri HUT Kementerian BUMN ke 20 di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2018).Poker88

Baca juga: Dalam 20 Tahun Aset BUMN Capai Rp 7.200 Triliun

Angka kerugian ini pun turun dibandingkan 2016. Kerugian 26 BUMN pada 2016 nilainya mencapai Rp 6,7 triliun. Artinya turun Rp 1,5 triliun atau berkurang 22,38% dalam setahun.

"Lebih tinggi nilai kerugian 2016 sekitar Rp 6,7 triliun," jelasnya.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3969605/12-bumn-rugi-di-2017-jumlahnya-rp-52-triliun

Pada tahun 2008, merupakan tahun yang dianggap sebagai ledakan privatisasi BUMN. Pemerintahan SBY mengumumkan akan melego 44 BUMN. Para ekonom menilai, privatisasi 44 BUMN tersebut sangat fantastis. Namun karena terkendala pasar, privatisasi baru dilangsungkan pada tahun 2009.Poker88

“Tahun lalu (2008) karena kondisi pasar tidak memungkinkan, maka ada sejumlah BUMN restrukturisasinya carry over (dialihkan) ke tahun depan,” kata Deputi Menneg BUMN Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi, M Yasin.Poker88

Pada tahun 2009, Pemerintahan SBY telah melakukan program privatisasi terhadap 30 BUMN. Privatisasi dilakukan melalui pola penjualan saham perdana kepada publik (IPO). (Kompas, 30 Desember 2008)Poker88

Lalu pada tahun 2013, dilaporkan bahwa total 36 BUMN telah melantai di bursa saham, dan 90 persen saham dikuasai pihak asing.Poker88

Apa Perbedan Privatisasi Antara SBY dan Megawati?

Pertama, juga harus dibedakan garis politik antara Megawati dengan garis politik SBY. Kebijakan politik Megawati adalah berdikari, dan yang menjadi semangat kerja pemerintah adalah “mengurangi secara signifikan jumlah utang negara” dan bertahan atas gebukan IMF yang ditandatangani pada tahun 1999. Sementara di era SBY, ekonomi politik berhaluan liberal, pembangunan didasarkan pada pertumbuhan hutang bukan pertumbuhan produksi.Poker88

Megawati wajib meneruskan keputusan pemerintah sebelumnya di masa Presiden BJ Habibie dalam SAP (Structural Adjustment Program). Dan hal ini adalah bagian dari desakan dunia luar seperti IMF dan World Bank. Sementara garis politik SBY menjalankan privatisasi sebagai bagian dari politik mandor langsung World Bank.

Kedua, Megawati melakukan politik anggaran yang menutup APBN, saat itu APBN defisit mewarisi berantakannya ekonomi di masa kejatuhan Suharto yang hancur lebur. Megawati harus menutupi hal itu karena dampak krisis 1997 bila tidak diselamatkan lewat politik penyelamatan anggaran darurat akan berimbas ke banyak sektor ekonomi, ini artinya Megawati melakukan “Politik Penyelamatan Anggaran di Masa Darurat”, dan bagaimana kronologis penjualan aset BUMN, telah dijabarkan di sini.

Sementara di masa SBY, anggaran APBN cenderung surplus dan tidak kekurangan berhutang dan privatisasi besar-besaran terus dilakukan, dan ini merupakan  skenario neoliberal, yang merupakan antitesis dari politik Megawati.Poker88

Ketiga, privatisasi di jaman SBY amat massif, dan tentunya akan memperlemah struktur kekayaan negara karena privatisasi ini dibarengi dengan sistem politik neoliberal dimana pemodal masuk dan menyerbu seluruh lini kekayaan negara sementara negara sama sekali tidak memiliki kekuatan bersaing dengan pemodal-pemodal asing. Di masa Megawati privatisasi 12 BUMN tujuannya itu untuk segera menyelesaikan hutang.

Ketiga hal ini bisa menjelaskan kenapa SBY seakan-akan membenarkan politik utang dan politik liberalisasi. Sementara itu,  banyak kalangan terus berteriak soal privatisasi Indosat sebagai titik nol negara tidak mempertahankan asetnya, tanpa pernah mencoba mencari tahu bahwa penjualan itu untuk menyelesaikan hutang dan keluar sebagai negara yang berdikari secara ekonomi, menguasai pasar regional dan produktif.


Beritaterheboh.com sumber detik.com/liputanislam.com

Pages