Patriot Kecil dari Atambua - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Saturday, August 18, 2018

Patriot Kecil dari Atambua

 emaspkr.com


BERITA EMAS
Tak ada yang mengira bahwa upacara bendera dalam peringatan hari Proklamasi 17 Agustus di perbatasan RI-Timor Leste akan menjadi pembicaraan banyak orang. Upacara yang sudah biasa dilakukan setiap tahun itu tiba-tiba menarik perhatian secara nasional. Hanya gara-gara tali pengikat bendera putus. Tapi bukan itu yang menarik untuk dibicarakan. Karena kalau tidak ada tindakan seorang bocah tanggung, putusnya tali bendera tentu akan dianggap sebagai insiden biasa saja.Poker88

Upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia di sebuah desa yang bernama Silawan, kecamatan Tasifeto, kabupaten Belu, sekitar 14 kilometer dari Atambua dan berbatasan dengan Timor Leste itu tiba-tiba hening. Semua tertegun. Disaat bendera merah putih yang akan dikibarkan. Tiba-tiba tali pengikat bendera putus. Bendera merah putih yang sudah disiapkan untuk dinaikkan ke tiang bendera, tak kunjung naik. Panik melanda petugas penaikan bendera merah putih. Kalau begitu terus, maka bendera tak akan bisa berkibar di puncak tiang bendera.Poker88
Di antara kepanikan yang luar biasa itu. Ada satu anak siswa SMP kelas 7 yang saat itu sedang istirahat karena tiba-tiba perutnya mules dan sedang meminta obat. Pada saat itulah ia mendengar bahwa tali bendera putus, dan bendera tak bisa dikibarkan. Tanpa pikir panjang lagi bocah itu berlari ke tengah lapangan di mana tiang bendera tersebut berdiri. Ia panjat tiang bendera yang cukup tinggi. Di antara tatapan antara ngeri bercampur kagum.Poker88

Bocah itu bernama Joni. Lengkapnya Yohanis Gama Marschal, seorang anak yang bapaknya lebih memilih Indonesia daripada Timor Leste. Rasa patriotismenya yang tinggi. Membuat ia nekat untuk memanjat tiang bendera dan membetulkan tali bendera yang putus. Tak dipikirkannya lagi risiko yang akan ia hadapi. Yang penting bagi dirinya adalah bendera merah putih harus berkibar. Itulah patriotisme sejati. Nasionalis murni.Poker88

Apakah kita semua seperti Joni kecil yang begitu cinta pada Indonesia? Yang ingin melihat bendera merah putih tetap berkibar? Adakah jiwa nasionalisme kita terbakar saat melihat bendera tak bisa dikibarkan? Apakah kita justru lebih peduli dengan diri kita sendiri?Poker88

Saat ini, nasionalisme seakan telah luntur di masyarakat kita. Tak ada lagi yang peduli apakah bendera merah putih akan terus berkibar atau tidak. Bahkan ada yang sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita tidak boleh menghormati bendera merah putih. Merah putih dianggap sebagai berhala yang harus dijauhi. Nasionalisme tak penting bagi mereka. Dan mereka justru ingin mendirikan sebuah negara untuk menggantikan NKRI. Dengan menggunakan ideologi baru. Bukan ideologi Pancasila yang selama ini kita akui telah mempersatukan rakyat Indonesia.Poker88
Mereka lebih bangga dengan ideologi yang mereka idamkan. Mereka ingin menghilangkan ideologi Pancasila dari muka bumi Nusantara. Mereka inilah yang sebenarnya harus malu kepada Joni kecil yang tak takut mati memanjat tiang bendera yang begitu tinggi. Tapi apakah ada rasa malu itu? Saya rasa tidak. Karena mereka memang tidak cinta kepada Indonesia. Mereka hanya menumpang di sini. Mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang pertumpahan darah. Demi ideologi mereka.

Joni kecil sudah membuktikan bahwa nasionalisme harus dijunjung tinggi di mana saja. Joni sudah mempraktekkan makna dari Pancasila. Joni kecil saja sudah mengerti tentang nasionalisme. Mengerti bahwa bendera merah putih harus terus berkibar. Tapi sayang, manusia-manusia dewasa yang sudah terkontaminasi kepentingan pribadi. Lupa bahwa nasionalisme itu adalah hal terpenting untuk menjaga keutuhan bangsa. Tapi demi ego mereka, mereka rela menjual nasionalisme mereka untuk ditukar dengan keuntungan pribadi.Poker88

Menjadi pemimpin bangsa adalah sebuah pengabdian. Tulus. Tanpa meminta balas jasa apalagi demi kepentingan pribadi. Namun sayang, ada politisi yang ingin berkuasa, tak ragu untuk menyogok partai politik sampai 1 triliun rupiah hanya untuk sebuah tanda tangan rekomendasi cawapres. Sungguh miris. Jika sudah memimpin nanti, apakah dirinya tidak akan berusaha mengembalikan uang yang telah ia keluarkan? Dengan gaji sebagai Wakil Presiden apakah akan cukup mengembalikan uang 1 triliun itu? Kalau tak cukup, darimana uang tersebut akan didapat kembali? Coba pembaca pikirkan sendiri.

Joni kecil adalah patriot sejati dari Atambua. Yang tak rela membiarkan bendera merah putih tak berkibar. Joni kecil hanya punya satu tekad, Bendera merah putih harus terus tetap berkibar apa pun yang terjadi. Kalau Sandi? Apapun akan ia lakukan agar bisa berkuasa. Uang 1 triliun? Tak masalah.



Pages