Ayo Rame-rame Dukung #2019GantiPresiden, Kita Ganti Jokowi dengan Joko Widodo! - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Thursday, September 6, 2018

Ayo Rame-rame Dukung #2019GantiPresiden, Kita Ganti Jokowi dengan Joko Widodo!

 emaspkr.com

BERITA EMAS

Jejaring sosial atau media sosial adalah sarana ampuh dan luar biasa untuk mempromosikan barang, jasa, juga diri dan ide setiap orang. Anda bisa, saya bisa, semua bisa.

Dalam bahasa sederhana, saya selalu mengatakan bahwa melalui media sosial kitapun sebetulnya dapat ‘menjual diri’, lebih kasar lagi bahwa kita dapat ‘melacurkan diri’ untuk banyak hal. Hari ini kita juga dapat menjual gagasan dan pandangan kita lewat medsos dengan harapan diminati sebanyak mungkin orang. Hasilnya bergantung pada tanggapan dan persepsi orang.
Di dunia politik misalnya, menggunakan media sosial dan segala macam bentuk jejaring sosial yang ada sudah bukan lagi barang yang tabu dan bukan barang baru. Semakin hebat Anda mempromosikan ‘barang dagangan’ Anda, akan semakin terkenal Anda serta apa yang sedang Anda jual tersebut. Binggo...!

Inilah juga sebuah keuntungan besar politikus yang hidup di era keemasan dunia digital informatika seperti sekarang ini. Sangat menarik untuk dibahas, misalnya tentang bagaimana manusia mengubah pola komunikasinya melalui kemajuan teknologi, pola marketing, dan bahkan pola peperangan gagasan dibanding era sebelumnya.

Twitter dan Facebook adalah dua sarana penting. Jalan menuju keterkenalan baik gagasan maupun si penggagas bisa melalui dua platform ini. Siapa saja dapat menggunakannya dengan mudah dan gratis. Tempat ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang secara maya, bertumbuh, bercinta, berkarya, bahkan sampai mencuri, menipu, menyebar fitnah serta hoax, dan merusak sekalipun dapat dijumpai dengan sangat mudah.BERITA EMAS

Hari ini dua sarana tersebut bahkan sedang dipakai sebagai ladang berkampanye yang murah biaya, namun besar pengaruhnya. Sebagai contoh, banyak politisi berusaha memaksimalkan peran itu dengan tepat dan jitu. Banyak politisi Indonesia kini sudah memiliki jumlah follower di FB jutaan orang, begitu juga dengan yang di twitter, dan mereka-mereka ini hampir saban hari berkicau atau majang status. Mulai dari kicauan cerdas maupun kicauan blekok nan bodoh yang nggak jelas juntrungannya sekalipun, yang penting berkicau.

Di Twitter, lihat saja politisi mana yang paling banyak followernya, dan yang paling sering berkicau, tentu akan menuai banyak hits. Mereka tentu paham betul pengaruh media sosial dalam memomulerkan diri mereka seperti itu.

Artinya apa, semakin banyak pengikutnya dan kicauan terhadap dirinya, akan semakin populer mereka. Meskipun tingkat kepopuleran tentu saja tidak serta merta berdampak pada sentimen positif, bisa juga justru hasil kicauan dan update status menuai sentiment negatif. Semua tergantung persepsi orang yang menafsir semua status atau kicauan yang para politisi itu buat. Begitu. Contoh sederhana, orang yang mencuri barang kementerrian yang bukan miliknya maka sebagus apapun kicauannya pasti orang akan tetap beranggapan miring terhadap dirinya. Ini fakta

#2019GantiPresiden Gagasan yang Berevolusi Menjadi Sebuah Gerakan

Kini ada gagasan dengan hastag #2019GantiPresiden yang coba digaungkan oleh pihak yang anti Jokowi, berharap peruntungan hastag atau tagar ganti presiden itu akan mendunia dan jadi perhatian nasional. Tidak sampai situ saja, hari ini mereka juga berusaha turun sampai ke daerah-daerah. Dari yang tadinya hanya gagasan, dan disebar lewat kicauan serta status dunia maya kini dilahirkan dalam bentuk gerakan. Bergerak secara fisik.

Jadi sekali bergerak, dunia maya dan dunia nyata langsung digeber oleh mereka. Ke depan siapa tau dunia ghaib pun akan dijamah. Mantap jiwanya sehat badannya gagasan serta gerakan ini! Sampai di sini, kita harusnya masih oke-oke saja sih. Nikmati saja permaianan tersebut bisa pula sambil tertawa dan makan pisang goreng, atau kerupuk. Setelah itu, bila mereka semakin jauh bertindak, kita harus mulai berpikir.

Sekarang mari kita coba sedikit berpikir, bagi yang kurang dipakai berpikir otaknya, ini kesempatan Anda memaksimal fungsi otak Anda. Maaf, bila kelamaan simpan di kulkas bisa bahaya itu isi otak. Jadi berpikirlah, dan berpikirlah serius selagi masih bisa (ini khusus ditujukan untuk kaum blekok nalar minus dua).

Ayo kita analisa jualan tagar #2019GantiPresiden laku apa tidak. Masuk akal apa nggak. Betul atau salah. Melanggar hukum ape kagak. Mari sama-sama kita telisik, dengan hati yang jernih, pikiran sehat, dan perut tidak sedang lapar.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa ‘jualan’ 2019GantiPresiden itu wajar-wajar saja, dan sama sekali tidak melanggar hukum. Bahkan seorang pakar tatanegara pun, Prof. Mahfud, MD menyampaikan hal yang sama. Katanya, "Meski begitu gerakan itu (#2019GantiPresiden) sendiri menurut sy tak melanggar hukum."

Mahfud MD mengatakan apabila dalam praktiknya gerakan tersebut disertai dengan perbuatan melanggar hukum maka saat itulah barulah kegiatan atau gerakan itu harus segera ditindak. Katanya lagi, "Kalau diboncengi tindakan melanggar hukum, ya harus ditindak."BERITA EMAS

Sampai sini semoga Anda semua paham. Betapa ringkihnya gerakan itu ditempeli tindakan yang melanggar hukum sebetulnya. Memang, saya juga sependapat kegiatan cuap-cuap dan hastag jualan ide #2019GantiPresiden adalah bukan sebuah tindakan yang melanggar hukum. Biasa saja. Biarkan saja mereka koar-koar ganti Presiden, toh 2019 nanti tetap Jokowi yang jadi Presidennya kok. Jadi santai saja.
Tetapi kita harus pantau seksama, bila gerakan itu lalu kemudian menimbulkan gesekan dan pertikaian maka itu sudah cukup dijadikan alasan bahwa gerakan ini berpotensi menjadi berbahaya.

Dan yang mesti diwaspadai sungguh-sungguh adalah ‘benalu’ yang menempel pada tagar ganti Presiden ini, yaitu #2019GantiSistem. Ini yang bahaya. Presiden boleh saja berganti, tetapi apakah kita akan membiarkan Pancasila diganti? Masak mau tunggu dulu tahun 2019 baru gerakan ganti sistem ini ditindak tegas dan dihentikan? Think!

Sekadar yang gagasan #2019GantiPresiden saja Prof Mahfud MD sendiri sudah nggak mau bergabung meskipun katanya telah diajak sejak awal. Katanya, "Sejak awal digagas dan diajak saya menolak keras untuk ikut gerakan #2019gantipresiden." Meskipun gerakan itu belum melanggar hukum. Apalagi bila yang muncul nantinya adalah #2019GantiSistem. Ini repot. Dhuaaaar!BERITA EMAS

Nah, biarkan saja para pentolan hastag ganti presiden itu berkoar-koar, jualan di medsos dan sebagainya. Biarkan saja. Ujungnya bukan untung malah bakalan buntung kok. Tidak sedikit juga kan yang menolak gagasan maupun gerakan itu.

Ratna, Neno, Mardani, dan Gerung, serta semua pendukung tagar itu nggak usah dilarang-larang. Kalau perlu perbanyak saja tagar dan juga gerakan #2019TetapJokowi, kita lihat siapa yang akan lebih banyak didukung.

Hanya saja, yang harus benar-benar ditindak secara hukum bila gerakan-gerakan ganti presiden berujung pertikaian dan perkelahian. Misalnya, ketika gerakan ini mau dideklarasi di daerah manapun, lalu ada gerakan lain yang menolak kelompok blekok yang ikut nebeng di gerakan 2019 ganti presiden, ya itu hak para penolak juga kan.

Anda bikin gerakan ganti presiden terus muncul gerakan lain menolaknya ya ajar dan biasa saja, jangan kemudian Anda jadi cengeng, nangis Bombay, bahkan ada yang sempat curhat di intercom pesawat terbang. Kenapa begitu? Santai sajalah kalau ada yang nolak gerakan kalian, emangnya dunia ini milik yang ganti presiden saja? Lebih banyak yang nggak kepengen Presidennya diganti lah....

Akhirnya, waspadailah benalu yang menempel di #2019GantiPresiden dengan usaha hendak mengganti sistem. Mungkin sedang berupaya mengganti Pancasila. Ini yang harus segera ditindak tegas. Inilah makar yang sesungguhnya itu. Upaya mengganti dasar negara adalah upaya melakukan makar.

Mahfud MD menilai wajar saja jika ada sekelompok orang menyampaikan aspirasinya menjelang Pemilu Presiden 2019. Termasuk aspirasi berupa tagar #2019GantiPresiden. Namun, aspirasi itu tidak boleh melanggar konstitusi yang ada di Indonesia katanya.

Sudah mulai ada tulisan yang beredar untuk #2019GantiSistem. Pertanyannya adalah ini, apakah upaya mengganti sistem yang sudah final di negara kita ini konstitusional atau tidak? Bila ada yang bilang mengganti Pancasila dengan Khilafah umpamanya disebut sebagai konstitusional, maka jelas itu adalah KONSTITUSIONAL NENEK LU!

Ibaratnya ada yang jualan pisang goreng, lalu Anda mendadak nggak suka sama pisang goreng itu karena rasanya tak sesuai selera lidah Anda dan bentuknya agak kurus. Lalu kemudian Anda mengusulkan supaya tahun depan pisang goreng harus segera diganti ubi goreng saja. Karena ubi ini lebih gemuk dagingnya, bikin kenyang.

Kemudian gagasan mengganti pisang goreng dengan ubi goreng Anda viralkan di medsos. Lumayan banyak yang menanggapi dan tertarik terhadap ide itu. Maka, dibentuklah gerakan ganti pisang goreng yang lebih membumi. Ibu-ibu dan bapak-bapak digerakkan untuk turun ke jalan. Jualan ide tahun depan ubi goreng terus digenjot, padahal ubinya saja belum siap, dan rasanya belum ada yang pernah tau seperti apa. Tetapi ya itulah, saking semangatnya ide ubi goreng ini terus saja dijual dan dipromosikan.

Sampai akhirnya, orang banyak mulai sadar dan merasa ditipu. Rupanya ubi goreng itu hanya alasan saja, sebab niat sesungguhnya para pencetus ide itu adalah hendak mengganti penggorengan dan bahkan dengan kompornya sekaligus. Alamak… Blekok amat si lu jadi orang!

Kalau seperti itu, ya sudah marilah rame-rame kita ganti saja Presiden Jokowi menjadi Presiden Joko Widodo di 2019 nanti. Gitu aja kok repot. Kura-kura saja nggak mau repot.... Hihaaaa.....

Pages