Buni Yani Dukung Prabowo Biar Bebas Dari Jerat Hukum! - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Wednesday, September 26, 2018

Buni Yani Dukung Prabowo Biar Bebas Dari Jerat Hukum!

 emaspk3.info

BERITA EMAS

Ketika Ahok masuk penjara, banyak yang kecewa baik kepada Jokowi terlebih hakim yang memutuskan. Padahal proses hukum sudah berjalan, Ahok pun sudah menerimanya dengan ikhlas. Sekalipun pengambilan keputusan oleh hakim tidak lepas dari tekanan massa.

Ketika kasus Rizieq Shihab di-SP3-kan, banyak pendukung Jokowi kecewa. Bahkan mungkin sampai sekarang pun masih kecewa karena merasa penegakan hukum masih lemah di era Jokowi. Bahkan ada yang mengira bahwa SP3 kasus RS termasuk bagian dari strategi politik Jokowi. Mereka lupa bahwa dengan anggapan seperti itu, mereka menganggap Jokowi intervensi hukum. Padahal tidak.

Ketika Ma’ruf Amin dipilih Jokowi jadi cawapresnya, banyak Ahoker kecewa. Mungkin sampai sekarang pun masih kecewa. Mereka merasa bahwa Jokowi seolah mengorbankan Ahok yang masuk penjara karena kesaksian Ma’ruf Amin. Lagi-lagi pendukung seperti ini merasa paling benar dengan agamanya serta menganggap Ma’ruf Amin sebagai sumber malapetaka Ahok.

Tidak apa-apa. Adalah hak setiap orang untuk mengekspresikan dirinya, bukan. Yang harus disadari betul-betul adalah jangan sampai kekecewaan itu didasarkan pada kebencian terhadap persona. Apa bedanya kamu dengan pembenci Jokowi?

Sementara pendukung Ahok dan Jokowi terlarut dalam kekecewaan mereka masing-masing, di sebelah, penyebab Ahok dikriminalisasi sedang berusaha memenangkan Prabowo-Sandi, yang dia anggap nanti akan membebaskannya dari jerat hukum, yaitu Buni Yani.

Dia merasa dirinya dikriminalisasi pemerintah, merasa dirinya korban. Padahal sudah jelas-jelas dia dilaporkan oleh yang bukan pemerintah. Dia diproses hukum sebagaimana proses hukum terhadap orang bersalah lainnya. Dan sekarang dia ada di tim pemenangan Prabowo-Sandi.

"Itu salah satu langkah saya untuk melawan Jokowi, terpaksa saya harus bergabung ke Pak Prabowo. Karena saya dikriminalisasi. Karena saya ini korban kriminalisasi, memperkuat tim Pak Prabowo untuk mengatakan bahwa tim ini adalah tim yang berjuang untuk demokrasi dan keadilan. Pihak sana sih pasti ngomongnya yang jelek-jelek. Anda kalau dengar 'cebong' sih begitu ngomongnya. Jadi jangan dengar, mereka buzzer gitu lho." (Detik)

Yang lebih mengejutkan adalah alasannya mendukung Prabowo-Sandi. Dia mendukung Prabowo-Sandi agar nanti tidak masuk penjara. Dia percaya jika Perbowo-Sandi menang, dia tidak akan masuk penjara. Seolah-olah seorang presiden bisa mengintervensi hukum, padahal tidak bisa. Dosen kog pikirannya seperti itu.

"Pak Prabowo harus menang, kalau nggak nanti saya masuk penjara 1,5 tahun. Justru itu yang saya lawan. Jadi ini harus dilawan ini rezim kalau dia zalim kepada masyarakatnya sendiri. Begitu." (Detik)

Membayangkan pemerintahan Prabowo-Sandi nanti, menurut Buni Yani, adalah pemerintahan di mana presiden akan menyelamatkan pendukungnya dari jerat hukum. Bukan hanya Buni Yani saja, Rizieq Shihab juga dijanjikan akan direhabilitasi kasus hukumnya jika Prabowo jadi presiden.

Buni Yani mendukung Prabowo-Sandi agar lepas dari jerat hukum. Sementara pendukung Jokowi kecewa karena penegakan hukum masih lemah di era Jokowi. Pendukung Jokowi merasa revolusi mental tidak menyentuh ranah hukum. Sementara di seberang merasa pemerintah intervensi hukum. Jokowi terjepit di antara pendukungnya dan para pembencinya, yang sama-sama membawa pikiran mereka masing-masing.

Mungkin pendukung Jokowi lupa bahwa legislatif dan yudikatif itu dua lembaga negara yang berbeda. Memang tidak terpisah sama sekali, tetapi juga tidak bisa saling intervensi sesuka hati. Jadi jangan terlalu berharap banyak penegakan hukum akan semakin berkualitas kalau Lembaga hukumnya sendiri tidak mau merevolusi mental mereka sendiri.

Buni Yani juga lupa bahwa presiden tidak bisa intervensi hukum sesuka hatinya. Adalah sangat bodoh Prabowo-Sandi – andaikan terpilih – merusak reputasi dan citranya hanya demi seorang Buni Yani. Karena kalau sempat presiden mengintervensi hukum, maka akan menjadi preseden buruk selama pemerintahannya.

Demikian juga ketika Jokowi dihubung-hubungkan dengan SP3 kasus Rizieq Shihab, menjadi preseden buruk. Seolah pemerintah tunduk pada tekanan massa. Padahal SP3 kasus Rizieq tergantung kepolisian, bukan tergantung presiden.

Orang lalu membandingkan kasus Rizieq Shihab di masa SBY dengan Jokowi. Jelas berbeda. Di masa SBY, RS terbukti bersalah sebagai dalang kerusuhan, makanya di penjara. Di masa Jokowi, kepolisian tidak menemukan bukti, sehingga tidak bisa dilanjutkan dan kemudian di-SP3-kan. Berbeda lagi dengan kasus Buni Yani yang sedang diproses di MA. Dia tinggal menunggu waktu masuk penjara saja, tidak mungkin lagi di-SP3-kan.

Sekarang Anda mendukung Prabowo atau Jokowi demi apa? Demi terbebas dari jerat hukum seperti Buni Yani atau demi Indonesia yang lebih maju.

Kalau Anda mau Jokowi memastikan Rizieq Shihab dipenjara biar Anda senang sama seperti Prabowo memastikan Rizieq Shihab terbebas biar GNPF senang, apa bedamu dengan Buni Yani?

Anda mau hukum berada di bawah ketiak presiden seperti gambaran Buni Yani dan GNPF atau tetap berdiri sendiri dan tidak bisa diintervensi presiden?

Semua itu terserah Anda. Kalau saya lebih memilih presiden tidak mencampuri urusan hukum saja!

Salam dari rakyat jelata

Pages