Prabowo Ketemu dan Puji China, Kampret Mingkem, Coba Kalo Jokowi yang Ketemu, Udah Kesurupan! - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Thursday, September 27, 2018

Prabowo Ketemu dan Puji China, Kampret Mingkem, Coba Kalo Jokowi yang Ketemu, Udah Kesurupan!

 emaspk2.cc

BERITA EMAS

Saya itu sebenarnya anaknya manis, gak suka ribut-ribut, cinta damai, tetapi semenjak kampret suka berisik, saya jadi gak tahan juga sama tingkah polah mereka yang kerap menggunakan standar ganda dan isu yang menjurus pada fitnah.

Kalau orang yang waras ngalah, bisa-bisa di Indonesia dipenuhi sama orang gila. Bukan masanya lagi saat ini yang waras ngalah. Kalau ada orang yang gak waras, apalagi gila, lebih baik saat ini berusaha disembuhkan, kalau udah gak bisa sembuh, dikirim aja ke rumah sakit jiwa, supaya gak merusak tatanan kehidupan, suka gangguin orang, teriak-teriak, kadang marah, kadang nangis dan bisa menyerang orang secara membabi buta.
Lalu apa ukurannya waras dan gaknya dalam politik? Kalau menurut saya, orang yang waras dalam berpolitik itu bersaing dan berkompetisi secara baik, serta mengutamakan kepentingan bersama, menjaga persatuan dan adu program yang akan dijanjikan kepada masyarakat, dengan catatan program yang bisa dilakukan secara nyata di dunia, bukan program hayalan dan tipu menipu.

Tetapi apa yang terjadi saat ini? Orang-orang minim prestasi mendompleng isu-isu yang dapat memecah persatuan bangsa yaitu isu indentitas dan SARA. Kalau mau contoh, ya sudah banyak. Jokowi diserang anti Islam, rezim yang suka kriminalisasi ulama, antek asing, dan dituduh komunis.

Kalau anda menjadi umat minoritas, coba rasakan gimana sakitnya ketika Jokowi dikatakan China Kristen. Sebagai orang keturunan Thionghoa yang sudah lahir, hidup dan berdarah NKRI pasti merasa sedih, memang apa kesalahan orang Thionghoa, dan apa kesalahan orang Kristen, sehingga anti terhadap sesama anak bangsa?

Yang rasis seperti ini sungguh tak beradab dan tidak mempunyai empati. Memang dipikir kalau kita mau dilahirkan itu bisa milih mau lahir dari rahim orang tua bersuku dan beragama apa?
BERITA EMAS
Semua yang berkaitan dengan China akan dicocoklogikan tentang konspirasi antek aseng, hingga masuknya komunis. Ini sudah menjadi rahasia umum. Semua digodok oleh kampret yang gak punya empati.

Sudah menjadi rahasia umum pula, kalau kampret sering menggunakan standar ganda dalam penilaian. Dalam musibah pun bisa dijadikan ajang propaganda, contohnya, jika ada pendukung Jokowi yang terkena musibah maka akan dikatakan adzab, tapi kalau pendukung Prabowo yang terkena musibah, maka akan dikatakan terkena ujian.

Ngomong-ngomong tentang standar ganda, saya jadi ingit Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN yang sekaligus ketua MPR, mengatakan bahwa adiknya yang tercyduk KPK dikatakann sedang mendapatkan ujian. Nah begininih yang bikin saya agak-agak sedih dan juga pengen ketawa.
Pagi ini saya baca berita mengenai Prabowo yang ketemu duta besar China untuk Indonesia. Prabowo memuji kebesaran China. Coba kalau Jokowi yang melakukan ini, pasti digoreng habis-habisan sama kampret.
Lambat laun, setiap orang akan berada di suatu titik jenuh. Orang yang masih punya otak waras, sedikit demi sedikit akan diajak menggunakan otaknya untuk berfikir. Propaganda busuk seperti penggunaan SARA dan ayat masih begitu laku di Indonesia, karena masih baru dan hangat. Tetapi nanti ketika hasil dari propaganda tersebut menghasilkan kualitas pemimpin yang buruk, rakyat terdampak, maka suatu saat rakyat akan muak dan lebih berfikir kritis.
BERITA EMAS
Mungkin kita harus sedikit sabar. Rakyat Indonesia butuh proses untuk membangun demokrasi yang berkualitas. Meskipun pilkada DKI Jakarta kemarin begitu kental permainan SARA, kita tidak boleh berkecil hati. Lihatlah Jawa Barat, mulai menggeliat dan berada di puncak titik jenuh, memilih orang yang berprestasi bukan karena permainan isu SARA. Padahal sebelumnya selama 10 tahun dikuasai oleh PKS, partai yang terkenal dengan jargon dakwahnya.

Ini bukan hinaan, cuma ngasih tahu saja kepada partai yang suka berjualan dan mencampur adukan urusan politik dengan agama. Suatu saat orang akan jengah. Apalagi kalau sudah menggunakan agama dalam berpolitik tetapi minim prestasi dan kadernya tertangkap KPK karena korupsi.

Sebenarnya rakyat saat ini juga sudah mulai jengah, coba lihat saja PKS yang dulu berambisi menjadi partai 3 besar saat ini justru nyungsep dan terancam tidak melewati ambang batas masuk parelemen, dan sepertinya PAN akan menyusul.

Pages