Remuk Redam Negeri, Mantan Terpidana UU ITE Buni Yani Masuk jadi Timses Prabowo ? - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Sunday, September 9, 2018

Remuk Redam Negeri, Mantan Terpidana UU ITE Buni Yani Masuk jadi Timses Prabowo ?

 emaspk1.com

BERITA EMAS
Masih ingat nama Buni Yani? Membayangkan namanya ingatan kita langsung tertuju kepada kegaduhan sekian tahun yang lalu. Pemerintah, aparat, rakyat dibuat repot semua. Sebagian rakyat Indonesia tentu masih ingat kasus yang menimpa Ahok, Gubernur DKI Jakarta saat itu. Gara-gara videonya diunggah secara tidak utuh oleh Buni Yani dan dikemas dengan narasi yang provokasi akhirnya menjadi viral di sosial media. Masyarakat yang tervoprokasi lalu secara bergelombang datang ke Jakarta. Dengan tagline "bela agama islam".

Hebohlah jagat raya Indonesia, lawan politiknya memanfaatkan moment saat itu dengan riang gembira. Singkat kata Ahok harus mendekam di Mako Brimob sampai sekarang, dengan pasal penistaan agama. Begitu pula sang pengunggah video yaitu Buni Yani, pada akhirnya juga harus mendekam di penjara. Kini, menyandang status sebagai mantan narapidana pelanggaran UU ITE.

Dan kini seorang Djoko Santoso yang disebut Calon Ketua Tim Kampanye Nasional pasangan bakal capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mewacanakan kabar melalui media, mau mengajak seorang Buni Yani sang mantan napi pelanggaran UU ITE masuk dalam Tim Sukses. Dan sesuai dengan keahliannya yang telah terbukti, maka yang bersangkutan akan ditempatkan Tim sosial media (medsos). Luar biasa bukan?
BERITA EMAS
"Insyaallah, insyaallah tak suruh masuk ya (masuk tim kampanye)," ujar Djoko di kediamannya di Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (8/9).

Menurut dia, Buni Yani sampai saat ini belum meminta posisi tertentu dalam struktur TKN. Namun, merujuk dari keahlian Bumi Yani sebagai penulis, rencananya ditempatkan dalam tim sosial media.

Tujuannya, Buni Yani bisa menghadapi serangan terhadap Prabowo-Sandi di media sosial. "Dia kan dosen juga, kalau tidak salah dosen komunikasi," lanjutnya. (Republika)

Baca juga: Slogan Jokowi Kurang Nendang?

Menghadapi serangan di medial sosial? Sungguh kontradiktif sekali. Sejujurnya saya membayangkan saja sudah ngeri. Jika mantan pelanggaran UU ITE kembali diberi panggung dengan sorot cahaya warna-warni. Mau jadi apa negara kita ini nantinya? Tiba-tiba wajah polos anakku sekelebat terlintas dalam benak. Juga generasi-generasi muda Indonesia. Jangan sampai mereka rusak akibat ambisi-ambisi para politisi yang jauh dari hati dan nurani.

Lagi pula bukankah selama ini justru narasi serta provokasi lebih banyak dilontarkan oleh pihak oposisi dan koalisinya. Melalui pemberitaan-pemberitaan yang dipelintir sedemikian rupa. Para buzzer oposisi memang sangat jago membuat narasi yang terbalik. Selama ini mereka disebut kampreters. Serangan-serangan mereka sungguh masive dan ajaib. Mereka tak segan-segan gunakan kalimat atau berita yang super hiperbola. Melebih-lebihkan sebuah perkara yang biasa saja, jadi menggema. Jadi senjata yang mematikan. Dan merusak paradigma rakyat awam. Frontal dan merusak mental.
BERITA EMAS
Sementara para relawan petahana atau yang mendukung Jokowi cenderung bertahan. Mereka menjelaskan dengan data setiap ada serangan. Terus menerus bertahan atas segala gempuran yang ada. Tidak berani frontal dan turut alur mereka. Sudah saatnya balik menyerang, agar mereka tersudut dalam ruang yang gelap, mengelam dalam diam yang panjang. Jika perlu nih, tenggelam ke dasar samudra yang tanpa batas. Agar negara kita damai dan fokus menjadi negara maju tanpa tersandera kepentingan oleh golongan. Ingin berkuasa tapi menghalalkan segala cara.

Buni Yani, Jonru, kelompok Saracen dan lainnya adalah bukti nyata. Mereka sebagai jembatan yang dapat merusak antar anak bangsa. Faktanya peliharaan dan dipelihara kelompok elit yang memiliki kepentingan atas negeri ini. Dapatkah kita bayangkan dampaknya kembali? Jika mereka semua diberi panggung? Sekarang baru Buni Yani yang mau diajak. Dan tak menutup yang lain pun akan digandeng juga. Karena mereka dianggap pahlawan oleh kelompok mereka ini.
BERITA EMAS
Memang tidak masuk akal jika dipikirkan secara logika dan akal sehat. Tapi faktanya memang demikian adanya. Karena orang yang ingin berkuasa itu sudah buta mata, buta nurani, buta hati dan buta segalanya. Di dalam otak mereka hanya ada kursi singgasana dan penghormatan yang tiada tara. Maka orang yang sudah disebut sampah media sosial pun bakal didaur ulang oleh para elit politisi haus darah.

Kembali, sudah saatnya relawan Jokowi di media sosial menjadi relawan yang memiliki mental menyerang bukan hanya pandai bertahan. Karena buat para kampreters tak penting logika sehat yang penting mereka mendapat tempat. Dan tujuannya jelas, berhasil memprovokasi rakyat.

Salam

Pages