Bak... Buk...Bak...Buk…! Ratna Sarumpaet Digebuki sampai babak belur !! - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Tuesday, October 2, 2018

Bak... Buk...Bak...Buk…! Ratna Sarumpaet Digebuki sampai babak belur !!

emaspk3.info


BERITA EMAS
Tersiar kabar bahwa aktivis Ratna Sarumpaet digebuki orang tak dikenal. Penganiayaan terjadi pada 21 September 2018 lalu di Bandung.

Kabar tersebut beredar bersama sebuah foto pada Selasa, 2 Oktober 2018. Sebuah foto yang diduga Ratna Sarumpaet tampak babak belur. Foto dan kabar tersebut tersebar melalui Twitter, akun @ayuning_2. Disebutkan pula, Ratna Sarumpaet saat ini berada di rumah sakit yang dirahasiakan.

Foto memperlihatkan Bu Ratna Sarumpaet mengenakan kemeja garis-garis. Bu Ratna seperti tengah duduk di tempat tidur rumah sakit terbukti di belakangnya terlihat ada tiang penyangga infus.

Dalam gambar tersebut juga tampak hampir seluruh muka Ratna Sarumpaet lebam. Mata perempuan itu pun bengkak membiru. Saat ini Ratna Sarumpaet dalam kondisi trauma berat.

"Ibu Ratna Sarumpaet dalam kondisi babak belur pagi ini, Rumah Sakit masih diRahasikan karena beliau masih dalam kondisi Trauma berat dipukuli beberapa Orang. Ya Rabb, siapapun mereka baik dalang maupun pelaku nya Matikan mereka dalam kehinaan yang sehina hinanya," kicaunya, Selasa (2/10/2018) pagi.

Sementara dalam sebuah pesan pendek yang beredar di grup WhatsApp wartawan, Ratna Sarumpaet mengatakan. "Mereka kan yang punya kekuasaan dan senjata. Saya punya anak-anak dan keluarga yang seumur hidup menanggung stigma karena saya."

Sementara itu, Politisi Partai Gerindra, aktivis #2019GantiPresiden, dan mantan pengacara Bu Ratna Sarumpaet, Habiburrahman mengaku baru mengetahui tentang kejadian Ratna Sarumpaet yang menjadi korban penganiayaan. Beliau Mengatakan sedang mengkonfirmasi kebenaran itu. Pak Habiburrahman sedang berupaya menelepon Bu Ratna namun tidak diangkat.

"Tapi saya ingat dia ajak ketemu saya tanggal 22 dan 24 kemarin," ujarnya saat dihubungi Tempo pada Selasa, 2 Oktober 2018.

Tentu menjadi kabar yang menyedihkan, siapapun yang menjadi korbannya. Aparat keamanan harus bekerja cepat untuk mengungkap kebenaran yang sebenar-benarnya. Mengingat hal ini menimpa salah satu tokoh oposisi.

Dikhawatirkan akan terjadi penggorengan fakta untuk menggiring opini publik. Selama ini pembentukan opini persekusi terhadap oposisi gencar dilakukan untuk membuat stigma rezim diktator dan represif. Qlue’awal bisa dilihat dari pesan WhatsApp yang dikirim oleh Bu Ratna diatas.

Apalagi ini sudah menyangkut penganiayaan fisik. Masih teringat kasus penganiayaan beberapa tokoh agama dan penganiayaan terhadap seorang ahli IT beberapa waktu yang lalu. Waktu itu, kasus tersebut coba dikaitkan dengan masalah politik, tapi kenyataannya, kasus tersebut hanyalah kasus kriminal biasa.

Ratna Sarumpaet Biang Hoaks

Selama ini Bu Ratna Sarumpaet dikenal sebagai tokoh oposisi yang sangat “kritis”. Kekritisannya tak jarang dibarengi dengan penyebaran hoaks. Sekedar mengingatkan, berikut sebagian hoaks yang pernah beliau lontarkan.

Pertama, Bu Ratna Sarumpaet, mengaku menerima aduan dari seseorang bernama Ruben PS Marey. Kepadanya, Ruben mengaku telah menerima transfer uang sebesar Rp23 triliun untuk donasi pembangunan Papua. Bu Ratna mengatakan, transfer uang itu telah dikonfirmasi Bank Dunia kepada Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun Ruben mengatakan bahwa uang tersebut tidak bisa dicairkan karena diblokir pemerintah.

Menurut Bu Ratna Ruben adalah salah satu dari tujuh keturunan raja-raja nusantara yang menghimpun dana untuk memajukan Papua. Bu Ratna pun mengatakan, uang sebesar Rp23 triliun tersebut hanya sebagian dari total keseluruhan uang Ruben.

Menanggapi hal tersebut, Forum Silaturahmi Keraton Kesultanan Nusantara (FSKN) membantah pernyataan Ratna Sarumpaet. Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, Dewan Pakar FSKN menegaskan, Ratna menyebar informasi palsu. Menurut beliau tidak ada aliran dana dari keturunan raja-raja nusantara dalam jumlah besar untuk Papua.

Dilain pihak, Bank Dunia Kantor Jakarta juga membantah tuduhan Ratna Sarumpaet. Mereka menegaskan tak terlibat transaksi keuangan dengan pihak perorangan di manapun. Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani “enggan (?)” menjawab Bu Ratna Sarumpaet.

Kedua, Bu Ratna Sarumpaet mengaku telah menebar berita hoax tentang PT. Dirgantara Indonesia yang dijual ke RRC.

Melalui akun Twitter @RatnaSpaet yang diunggah pada Jumat (4/5/2018). Berikut cuitannya :

"BERITA DUKA "TERBODOH"

"Telah ditanda-tangani pelunasan pembayaran dari RRC kpd Pemerintah RI awal April 2017 oleh Pres @jokowi (disetujui dtdtngni Ket KPK, Ket DPR Ket Dewan Pertimbangan Presiden). Maka Kepemilikan PT.Dirgantara Indonesia, kini berpindah k tangan pemerintah RRC,"

Merasa kabar yang disampaikan Bu Ranta adalah hoaks, melalui akun Twitter resminya , PT Dirgantara Indonesia menegaskan bahwa PT DI tidak dijual ke China. Bu Ratna akhirnya meminta maaf.

Ketiga, Bu Ratna Sarumpaet, berkomentar terkait melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melalui laman Twitternya, @RatnaSpaet, Rabu (5/9/2018), Bu Ratna Sarumpaet menyindir pelemahan mata uang rupiah dengan mengunggah foto pecahan uang kertas Rp 200 ribu.

Dalam keterangan foto tersebut menyebutkan, bahwa pecahan uang kertas Rp 200 ribu telah resmi diedarkan. Uang kertas pecahan Rp 200 ribu tersebut berwarna hijau dengan kombinasi ungu dan bergambar kuda.

Sampai sekarang tidak pernah ada uang pecahan Rp. 200 000 ribu itu.

Keempat, selain penyebar hoaks, Bu Ratna juga dikenal sebagai pahlawan kesiangan. Hal ini dapat diketahui saat beliau terlibat cekcok mulut dengan Menko Kemaritiman, Luhut B. Panjaitan.

Saat itu tengah terjadi dialog mengenai rencana dihentikannya pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Kabupaten Simalungun. Bu Ratna tidak terima dengan penghentian pencarian korban. Beliau ingin pencarian terus berlanjut.

Perdebatan bahkan terjadi tidak hanya dengan Pak Luhut, bahkan dengan keluarga korban. Semua keluarga korban telah sepakat untuk menghentikan pencarian. Tetapi saat itu Bu Ratna malah menuduh keluarga korban tersebut telah dibayar. Terbukti, selain ingin tampil sebagai pahlawan, Bu Ratna telah menyampaikan hoaks bahwa para keluarga korban telah diba

Pages