Fahri: Ratna Berbohong dan Sudah Ngaku Tapi Pemerintah Berbohong Nggak Pernah Ngaku - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Saturday, October 13, 2018

Fahri: Ratna Berbohong dan Sudah Ngaku Tapi Pemerintah Berbohong Nggak Pernah Ngaku


 emaspk3.info


BERITA EMAS

Sejumlah pihak mengusulkan momen pengakuan berbohong Ratna Sarumpaet pada 3 Oktober ditetapkan sebagai hari anti hoax nasional. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku sepakat, asal dengan beberapa syarat.

“Asal tokohnya jangan satu, tokohnya harus banyak. Yang bohong itu, yang menjadi korban kebohongan itu bukan hanya Pak Prabowo tapi Pak Mahfud MD (mantan Ketua MK) juga,” ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10/2018).

Fahri menyebut nama Mahfud terkait gagalnya anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menjadi calon wakil presiden pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019.

“Kalau Pak Prabowo dan Pak Mahfud MD jadi dianggap sebagai ikon korban kebohongan dan mereka yang mengusulkan, saya kira dua-duanya bagus. Satu mewakili dibohongi negara, satu diwakili dibohongi rakyat. Kan sempurna, gitu kan,” ujar Fahri.
Lebih lanjut Fahri mengatakan, Mahfud juga korban kebohongan, tepatnya korban kebohongan negara.

“Mahfud MD mengatakan kepada wartawan ‘ini panggilan sejarah’, akhirnya yang dipilih Jokowi… ‘saya sudah menjahit baju, besok saya akan ke KPU’. Ini dia ngomong di hadapan publik, ada politisi yang marah, yang pesta dan lain sebagainya,” kata Fahri.
BERITA EMAS

“Ternyata Pak Jokowi mengumumkan orang yang berbeda. Pertanyaan, di sini ada kebohongan menjadi tersangka, di sana ada kebohongan tidak jadi tersangka. Kan nalar hukum kita harus fair dong,” lanjutnya.

Fahri pun meminta masyarakat berlaku adil dalam kasus Ratna Sarumpaet. Masyarakat diminta Fahri juga menyoroti kebohongan negara.

“Pokoknya yang penting figurnya kita akui bahwa negara juga berbohong, pemerintah juga berbohong, rakyat juga berbohong. Ratna Sarumpaet itu adalah rakyat, dia berbohong dan dia sudah ngaku berbohong tapi pemerintah berbohong nggak pernah mengaku berbohong,” tegasnya.


Jurnalpolitik.id – Sejumlah pihak mengusulkan momen pengakuan berbohong Ratna Sarumpaet pada 3 Oktober ditetapkan sebagai hari anti hoax nasional. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku sepakat, asal dengan beberapa syarat.

“Asal tokohnya jangan satu, tokohnya harus banyak. Yang bohong itu, yang menjadi korban kebohongan itu bukan hanya Pak Prabowo tapi Pak Mahfud MD (mantan Ketua MK) juga,” ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10/2018).
 BERITA EMAS

Fahri menyebut nama Mahfud terkait gagalnya anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu menjadi calon wakil presiden pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019.

“Kalau Pak Prabowo dan Pak Mahfud MD jadi dianggap sebagai ikon korban kebohongan dan mereka yang mengusulkan, saya kira dua-duanya bagus. Satu mewakili dibohongi negara, satu diwakili dibohongi rakyat. Kan sempurna, gitu kan,” ujar Fahri.

Lebih lanjut Fahri mengatakan, Mahfud juga korban kebohongan, tepatnya korban kebohongan negara.

“Mahfud MD mengatakan kepada wartawan ‘ini panggilan sejarah’, akhirnya yang dipilih Jokowi… ‘saya sudah menjahit baju, besok saya akan ke KPU’. Ini dia ngomong di hadapan publik, ada politisi yang marah, yang pesta dan lain sebagainya,” kata Fahri.
“Ternyata Pak Jokowi mengumumkan orang yang berbeda. Pertanyaan, di sini ada kebohongan menjadi tersangka, di sana ada kebohongan tidak jadi tersangka. Kan nalar hukum kita harus fair dong,” lanjutnya.
BERITA EMAS

Fahri pun meminta masyarakat berlaku adil dalam kasus Ratna Sarumpaet. Masyarakat diminta Fahri juga menyoroti kebohongan negara.

“Pokoknya yang penting figurnya kita akui bahwa negara juga berbohong, pemerintah juga berbohong, rakyat juga berbohong. Ratna Sarumpaet itu adalah rakyat, dia berbohong dan dia sudah ngaku berbohong tapi pemerintah berbohong nggak pernah mengaku berbohong,” tegasnya.

Hari Anti Hoax
Adapun penetapan Hari Anti Hoax Nasional diusulkan oleh salah satunya Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Mantan Wali Kota Bandung itu mengusulkan agar momen pengakuan berbohong Ratna Sarumpaet pada 3 Oktober dijadikan Hari Anti Hoax dengan harapan agar bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia.
BERITA EMAS

“Supaya jadi pelajaran maka kita bikin Hari Anti Hoax Nasional. Saya mengusulkan tanggal 3 Oktober karena pengakuan pembuat hoax terbaiknya di hari itu,” ujar pria yang karib disapa Emil itu di The Trans Hotel, Kamis (4/10/2018).
Selain Ridwan, usulan Hari Anti Hoax juga disampaikan sejumlah kader parpol koalisi Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Kelompok yang tergabung dalam Generasi Muda Tolak Hoax itu menilai, Hari Anti Hoax bisa dijadikan pengingat bahwa berita bohong hanya akan membuat gaduh masyarakat.

“Perlu diadakan (Hari Anti Hoax Nasional) karena hoax ada saja muncul. Setelah hoax Ratna muncul ada video di mana-mana, gunung meletus, segala macam, sempat sedikit menimbulkan keresahan. Mungkin kalau di Jakarta cepat meredamnya tapi kalau di daerah lain? Jadi hoax ini terus berjalan, jadi hari anti hoax perlu diadakan,” kata kader Partai Golkar Dave Laksono di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/10/2018).
BERITA EMAS

Selain itu, Hari Anti Hoax ini juga sebagai pengingat agar masyarakat harus lebih bijak lagi dalam membagikan berita di media sosial.

Pages