Ngeri! Ada yang Manfaatkan Gempa untuk Kekuasaan, Dengan Propaganda Penjarahan - BERITA EMAS - Berita Terkini, Berita Akurat, Berita Terpercaya

Breaking

Monday, October 1, 2018

Ngeri! Ada yang Manfaatkan Gempa untuk Kekuasaan, Dengan Propaganda Penjarahan


 emaspk2.cc


BERITA EMAS
Di tengah-tengah bencana alam, gempa dan tsunami, rupanya ada yang memanfaatkan momen ini untuk menciptakan kerusuhan. Kabar terbaru muncul dari Mendagri, Tjahjo Kumolo. Ini masih soal penjarahan di Palu.

Sebelumnya, berita penjarahan marak tersebar di sosial media dan media massa kita. Saat sebagian orang langsung nyinyir dan menyebut korban gempa di Palu tidak bijak, juga ada yang membandingkannya dengan Lombok, saya memilih untuk berpikir positif. Karena dari sekian banyak bencana alam yang telah kita lalui, cerita penjarahan ini baru terjadi sekarang.

Pagi tadi, beberapa media massa mengabarkan bahwa apa yang viral di sosial media terkait penjarahan sebenarnya bukanlah penjarahan. Melainkan itu karena beberapa Menteri yang ada di lokasi memutuskan untuk membeli seluruh isi minimarket, dan membiarkan warga terdampak gempa mengambil barang-barang berupa makanan dan minuman di dalamnya.

Berita ini semakin menguatkan karena salah seorang informan Seword yang berada di lokasi juga membenarkan. Bahwa itu adalah respon tanggap darurat karena jalur distribusi logistik belum banyak yang bisa dilalui.
BERITA EMAS
Namun sore ini, Mendagri membantah adanya instruksi mengambil makanan di semua minimarket yang ada di Palu. Beliau hanya meminta seluruh rombongan dan jajarannya untuk mencari pemilik-pemilik toko, untuk membeli barang-barangnya dan dibagikan ke warga. Tidak ada instruksi bebas mengambil di mana saja.

Terus terang ini agak membingungkan. Mengingat beberapa media massa sebelumnya sudah memuat berita bahwa ada arahan, agar masyarakat mengambil makanan dan minuman di minimarket sekitar Palu.

Saya pun komplain dengan informan Seword yang sudah memberikan informasi tidak akurat. Kenapa ini bisa salah? Dan jawabannya pun agak mengagetkan, dia merasa sudah benar. Karena memang itu informasi yang ada di lokasi.

Setelah memperlihatkan banyak gambar dan video polisi dan TNI berjaga di sekitar minimarket terdampak gempa, membiarkan orang-orang masuk mengambil barang-barang di dalamnya, saya tanyakan, ini apa yang salah sebenarnya? Mendagri yang tidak mengakui kebijakannya atau memang ada hoax yang disebar di sana?

Dan ternyata, memang ada yang memanfaatkan bencana alam ini untuk kepentingan politik dan propaganda.
BERITA EMAS
Pertama, ini adalah musim kampanye. Berbeda dengan gempa di Lombok. Sehingga potensi propaganda jauh lebih besar. Jika Lombok saja diramaikan soal isu kemurkaan Tuhan karena TGB mendukung Jokowi, maka gempa di Palu dianggap murka Tuhan karena telah menetapkan Gus Nur sebagai tersangka serta dampak dari membuat Rizieq terlunta-lunta di Arab Saudi.

Kedua, terjadinya penjarahan di beberapa tempat di Palu bermula dari pesan berantai, dari katanya ke katanya, bahwa pemerintah akan tanggung jawab membayar barang-barang yang diambil dari minimarket. Hal ini diperkuat oleh gambar-gambar polisi yang menjaga minimarket saat orang-orang masuk dan bebas mengambil barang yang ada di dalam.

Padahal Mendagri hanya menginstruksikan jajarannya untuk mencari pemilik-pemilik toko untuk diborong seluruh barang yang ada di dalam tokonya. Dan soal gambar polisi menjaga toko, membiarkan warga mengambil barang dari dalam, itu adalah salah satu toko yang berhasil diborong barang-barangnya.

Ketiga, di saat anggapan boleh mengambil barang-barang yang ada di toko sekitar lokasi gempa sudah tersebar, bahkan masih diyakini oleh beberapa orang hingga saat ini, tugas aparat tidak hanya mengevakuasi korban bencana. Tetapi juga menjaga keamanan sekitar lokasi, untuk memberikan bantahan bahwa tidak ada instruksi boleh ambil barang sesukanya seperti pesan yang sudah mereka terima.
BERITA EMAS
Inilah tahapan kondisi yang terjadi di Palu, sejauh yang saya terima hingga saat ini.

Saya jadi teringat dengan strategi yang dianut oleh salah seorang Capres, jarahlah rumah yang sedang terbakar. Gunakan kesempatan dan kekacauan yang timbul untuk mengambil barang-barang berharga di dalamnya.

Apakah segala kekacauan ini memang sengaja diciptakan, sehingga satu saja kata diplintir, terjadilah penjarahan massal di Palu. Ataukah ini memang bagian dari strategi kampanye untuk menghabisi simpati terhadap pemerintah dan Presiden Jokowi yang akan kembali maju dalam Pilpres tahun depan? Kita tidak tahu pasti jawaban dari serangkaian pertanyaan tersebut.

Tapi faktanya, penyebaran kabar bahwa boleh mengambil barang yang ada di dalam minimarket dan toko-toko begitu terstruktur, sistematis dan massif. Bahkan membuat informan Seword terkecoh dan meyakini bahwa memang itu dibolehkan. Gila!
Akhir kata, segala bentuk bencana alam yang ada di negara kita seharusnya bisa kita hadapi bersama-sama. Melupakan pililhan politik, agama dan suku. Melihat apa yang terjadi saat ini, ada yang memanfaatkan dan ingin menimbulkan kekacauan, sepertinya nafsu berkuasa mereka jauh lebih besar dibanding empati terhadap korban gempa. Begitulah kura-kura.






Pages