Chat with us, powered by LiveChat Example

Geram Terus Diterpa Isu PKI, Jokowi: Ini Cara Berpolitik Enggak Beradab


 emaspk3.info

BERITA EMAS

Calon presiden petahana Joko Widodo atau Jokowi kembali mengungkapkan kekesalannya atas tudingan bahwa dirinya adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut dia, hal tersebut adalah isu basi yang terus digulirkan.

"Ini mulai lagi, padahal sudah lama agak diem isu-isu lama yang itu-itu saja. Ini sudah masuk di Jawa Tengah, Jawa Barat, Depok, Bogor, Sukabumi, sudah mulai lagi. Isunya ya itu-itu saja, isu PKI," ujar Jokowi di acara Rakernas Bravo-5 di Ballroom Putri Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara, Senin (10/12/2018).
Soal Jokowi itu PKI, jawabnya mudah. PKI dibubarkan '65 '66, saya lahir 61. Umur saya baru 4 tahun, berarti ada PKI balita. Ada balita PKI? Tapi terus ditarik ke yang lain, bapak ibunya, kakek neneknya," ujar Jokowi.

Dia meminta para pihak yang memfitnah langsung bertanya ke kiai atau tokoh Islam di kampung halamannya. Dia menegaskan keluarga besarnya adalah muslim dan tidak ada keturunan PKI.

"Pas ketemu kiai-kiai saya sampaikan, ini zaman terbuka, tanya saja di masjid dekat rumah saya, rumah orangtua saya, rumah kakek-nenek saya, NU ada di Solo, MTA ada di Solo, FPI pun ada di Solo, itu tanya saja di situ. Gampang sekali," ujar Jokowi.

BERITA EMAS

Jokowi juga mengaku sudah sangat sabar diterpa isu tersebut. Namun, dirinya terkadang sangat jengkel bila isu PKI terus mengemuka. Apalagi saat foto dirinya yang digambarkan tengah mendengarkan Ketua PKI DN Aidit berpidato muncul di media sosial.

"Pidatonya (PKI) saja tahun 1955, saya belum lahir, kok saya ada di dekatnya. Penjelasan seperti itu tadi banyak sekali di medsos, inilah cara politik yang enggak beradab," pungkas Jokowi. 
Tudingan Antek Asing
Selain itu, Jokowi juga angkat bicara soal tudingan isu antek asing. Jokowi memaparkan gebrakan pemerintah yang mengambil alih sejumlah perusahaan yang dikuasai asing.

"Antek asing yang kayak apa, saya sampaikan Blok Mahakam? Sudah berapa puluh tahun dipegang Jepang dan Perancis, 2016 saya serahkan ke Pertamina. Sudah 100 persen dimenangkan oleh pertamina," kata Jokowi.

"Terus antek asingnya di sebelah mana? Kita tambah lagi Freeport, sudah 40 tahun kita hanya diberi 9 persen, semuanya pada diem nggak ada yang ngomongin antek asing. Ini kita sudah 51 persen loh," ujar Jokowi.

Dia menambahkan, dirinya butuh dukungan besar dari para relawan supaya meluruskan hal-hal yang tidak benar. Termasuk tudingan antek asing. Dia mengungkapkan, banyak tekanan politik yang sulit dihadapi bila dirinya ingin mengambil kebijakan.

BERITA EMAS

"Sesungguhnya yang saya tunggu demo depan istana besar-besaran untuk memberikan dukungan kepada presidennya, gitu nggak ada. Padahal tekanan politik bukan hal yang mudah, bukan barang yang mudah, tekanan politik dari kanan, kiri, depan belakang, tapi saya maju terus, saya nggak dengerin," tuturnya.

Jokowi juga memaparkan, jumlah TKA yang ada di Indonesia sekitar 80 ribu orang, di mana 24 ribu berasal dari Tiongkok. Padahal, jika dilihat TKA Indonesia di Hong Kong kurang lebih 140 ribu dan di Taiwan sekitar 200 ribu.

"Tenaga kerja kita yang ada di Tiongkok ada 80 ribu, artinya sudah 420 ribu. Padahal mereka yang ada di sini 24 ribu. Artinya apa? Sebenarnya mereka antek Indonesia. Iya lebih banyak orang kita yang ada di sana daripada orang mereka yang di sini, jangan dibalik-balik," terang Jokowi.

BERITA EMAS

Dia menekankan, bahwa jumlah TKA asal Indonesia sangat kecil dibandingkan negara-negara lain. Contohnya Unite Emirat Arab, jika dijumlah TKA-nya sebanyak 80 persen dan Arab Saudi sekitar 33 persen.

"TKA-nya mungkin separonya dari Indonesia karena ada 600 ribu tenaga kerja kita yang ada di Saudi, itu yang legal, yang ilegal mungkin lebih," ujar Jokowi.

"Kita lihat Singapura, 24 persen TKA, kita ini persen saja nggak ada, hanya 0,03 persen. Data-data seperti ini harus kita ketahui supaya bisa jelaskan. Jangan kita diadu-adu dengan angka yang tidak jelas itu. Tidak ada satu persen pun, kecil sekali," pungkas Jokowi.

Reporter: Muhammad Genantan Saputra