Chat with us, powered by LiveChat Example

Orang dengan Pandangan Politik Radikal Cenderung Ngotot meski Salah


 emaspk3.info

BERITA EMAS

Kini ada banyak orang di Indonesia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain di seluruh dunia yang memiliki pandangan politik terpolarisasi. Hal ini menyebabkan mereka menjadi seorang ekstremis terhadap pandangan politiknya itu.
Akibatnya, sering kali kita melihat saat terjadi suatu perdebatan antara dua orang dengan pandangan politik berbeda, masing-masing kubu tidak ada yang mau mengakui kekurangan atau kesalahan mereka.
Para peneliti dari University College London (UCL) di Inggris berusaha menyelidiki fenomena ini. Dan temuan mereka, yang telah dipublikasikan di jurnal Current Biology, mengungkap bahwa mereka yang punya pandangan radikal tidak bisa memahami kesalahan mereka sendiri dibanding orang dengan pandangan moderat, bahkan saat sedang berdiskusi dengan suatu hal yang tidak berhubungan dengan politik.
"Kami mencoba untuk mengklarifikasi apakah orang-orang yang punya pandangan politik radikal secara umum terlalu percaya diri dalam pandangan mereka, atau apakah itu berasal dari perbedaan metakognisi, yaitu kemampuan pemahaman kita atas suatu kesalahan yang kita miliki," kata Steve Fleming, pemimpin riset, seperti dikutip dari Newsweek.
Dalam riset ini tim peneliti melakukan survei terhadap 381 orang. Survei didesain khusus untuk menilai pandangan politik mereka sekaligus pendapat mereka terhadap orang lain dengan pandangan politik berbeda.

Hasil riset menunjukkan bahwa orang-orang dengan pandangan politik ekstrem cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap orang-orang dengan pandangan politik berbeda. Selain itu mereka juga lebih mungkin untuk memiliki kecenderungan mendukung otoritarianisme.
Setelah survei dilakukan, para peserta diminta untuk melengkapi tugas perseptual yang tidak berhubungan dengan politik. Mereka diberikan dua gambar berisi titik-titik dan harus memilih gambar mana yang punya titik lebih banyak.
Mereka juga diminta untuk menilai seberapa yakin mereka atas pilihannya dan jika tebakannya benar mereka akan mendapat hadiah uang.
Dari situ ditemukan bahwa masing-masing orang moderat dan radikal dalam riset bisa melakukan tugas ini dengan baik. Tapi peneliti menemukan bahwa orang radikal cenderung terlalu percaya diri dalam akurasi jawaban yang mereka berikan, bahkan ketika jawaban mereka salah.

Selanjutnya para peserta riset diberikan tugas lain untuk menilai reaksi mereka dalam memproses bukti baru. Tugas ini mirip dengan tugas sebelumnya, tapi kali ini mereka mendapat informasi ekstra atas jumlah titik yang benar sebelum mereka memberikan nilai atas tingkat kepercayaan dirinya.
Intinya di tugas terakhir ini, para peneliti ingin melihat reaksi para peserta jika mereka menebak jumlah titiknya salah maka tingkat kepercayaan diri mereka akan berkurang. Hal itu yang para peneliti temukan pada orang-orang moderat, tapi efek itu tidak banyak terdapat pada orang-orang radikal.
"Kami menemukan bahwa orang-orang dengan pandangan politik radikal punya metakognisi yang lebih buruk dibanding mereka dengan pandangan politik moderat," kata Fleming.
"Mereka sering salah menempatkan kepastian atau kepercayaan diri mereka ketika mereka sebenarnya salah atas sesuatu. Mereka juga lebih menentang untuk mengubah pandangan mereka meski telah ada bukti yang mengatakan mereka salah," paparnya.
Tim peneliti juga melakukan eksperimen serupa pada 417 orang lain dan ternyata hasilnya juga sama. Hal ini memperkuat temuan bahwa orang-orang dengan pandangan politik yang radikal atau ekstrem memang cenderung lebih ngotot dengan pandangan atau keyakinan mereka meski terbukti salah