Chat with us, powered by LiveChat Example

Disebut Jadi Penyebar Pertama Hoaks Ratna Sarumpaet, Dahnil: Itu Upaya Fitnah



 emaspk1.com


BERITA EMAS

Nama Dahnil Anzar Simanjuntak, disebut di persidangan Ratna Sarumpaet. Dalam persidangan itu, saksi menyebut Dahnil berperan sebagai salah satu orang yang mengkonfirmasi terkait pengeroyokan Ratna.

“Itu statement penyidik polisi di persidangan, statement dia menunjukkan kecenderungan dan arah penyidikan polisi dalam kasus Ratna Sarumpaet. Tuduhan penyidik bahwa Fadli Zon dan saya, sebagai penyebar pertama adalah menunjukkan arah penyidikan mereka, yang cenderung ingin melakukan framing, dan pernyataan itu bisa mengarah pada upaya fitnah,” ujar juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak kepada wartawan, Selasa (26/3/2019) malam.
Selain Dahnil, nama Waketum Gerindra, Fadli Zon, memang disebut dalam kesaksian salah satu penyidik Polda Metro Jaya, Niko Purba, yang bersaksi di persidangan Ratna pada Selasa (26/3) kemarin. Niko mengatakan Dahnil dan Fadli saat itu salah satu orang yang membenarkan Ratna korban penganiayaan. Niko mengaku mengetahui hal itu dari media online.

Menurut Dahnil, pengakuan Niko dinilai sebagai salah satu bentuk ketidakadilan penyidik. Menurutnya pernyataan penyidik itu salah satu bentuk penggiringan opini publik.

“Jadi, statement penyidik itu terang menggambarkan bagaimana upaya framing dan sikap tendensius mereka, padahal gambar dan berita terkait Ratna Sarumpaet sudah menyebar, dan wartawan mengkonfirmasi kepada saya, bagaimana mungkin tiba-tiba penyidik polisi menyebutkan Fadli Zon dan saya yang menyebarkan pertama kali,” tegasnya.

“Parahnya, upaya itu kelihatan sekali dari statement Niko yang penyidik polisi tersebut mendalilkan sumber informasi pertama dia media online. Padahal, berita itu sudah menyebar via media sosial dan sebagainya, nah cara dia terang, cara framing dan tendensius,” imbuh Dahnil.

Sebelumnya, nama Dahnil dan Fadli disebut saat hakim bertanya ke Niko mengenai awal mula mengetahui munculnya kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet. Saat itu, Niko mengatakan tahu berseliwerannya foto wajah Ratna Sarumpaet yang tampak seperti lebam dan bengkak itu, Niko juga mengaku membaca berita media online.

“Jawa Pos seingat saya, statement-nya Dahnil Anzar membenarkan Ibu Ratna sebagai korban penganiayaan. Kalau Tribunnews adanya statement Fadli Zon yang membenarkan juga Ibu Ratna sebagai korban penganiayaan,” kata Niko di PN Jakarta Selatan, Selasa, 26 Maret 2019.

Dia mengetahui berita penganiayaan ini pertama kali dari media pemberitaan daring Tribunnews.com dan Jawapos.com. Saat berita itu muncul, barulah saksi bersama tim penyelidik dan penyidik memeriksa kebenaran berita tersebut.
Polisi, menurut Niko, membentuk tim menelusuri kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet yang disebut-sebut terjadi di Jawa Barat.

Polisi juga mengecek foto-foto yang menunjukkan luka lebam Ratna yang beredar luas di media sosial maupun aplikasi perpesanan WhatsApp. Salah satu yang dicek polisi dari foto yang viral itu adalah latar belakang foto yang diduga polisi dengan latar di salah satu kamar pada Rumah Sakit Khusus Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat.

Kasus hoaks Ratna bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tak di kenal di Bandung, Jawa Barat.

Usai ramai-ramai berita itu, Ratna mengaku, berita penganiayaan terhadap dirinya bohong. Dia mengaku mukanya lebam setelah menjalani operasi plastik.

Ratna ditahan setelah ditangkap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Kamis malam, 4 Oktober 2018. Saat itu, Ratna hendak terbang ke Chile.

Akibat kebohongannya itu, Ratna ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).